A BLESSED TRAVELER

Have you ever travelled alone to foreign place for the first time?
If you did it, maybe we had the same feeling. Yes, Afraid!
But, did you ever feel so blessed along that journey? Because, I did.

Kamis, 18 September 2014 menjadi hari yang tak akan pernah terlupakan dalam hidup saya. Bagaimana tidak? Pada hari itu, untuk pertama kalinya saya pergi sendiri ke kota lain tanpa ada seorang pun yang menemani.

Cerita bermula sehari sebelumnya, saat saya mendapat pesan singkat dari perusahaan manufaktur Jepang. Pesannya berisi bahwa saya diundang untuk psikotest keesokan harinya pada jam 10.00 di Kawasan Industri Ejip Cikarang. Tanpa perpikir panjang saya langsung mengkonfirmasi pesan singkat tersebut untuk menyatakan bahwa: Ya, saya bersedia mengikuti tes disana.

Singkat cerita, sebenarnya saya sempat hopeless. Seminggu sebelumnya saya mendapatkan pesan singkat yang sama. Saya mengajukan reschedule tes karena harus mengikuti acara gladi resik wisuda di kampus, namun tidak ada tanggapan sama sekali. Bulan sebelumnya, saya juga menerima undangan tes dari perusahaan yang bergerak dalam bidang penjualan alat berat yang berlokasi di kawasan industri Cakung, Cilincing, Jakarta Utara. Namun karena rasa takut menghantui saya, saya akhirnya mengurungkan niat untuk pergi kesana. Jadi sebenarnya, ini adalah kesempatan kedua untuk bisa melakukan perjalanan sendirian dan menjadi tantangan untuk bisa mengalahkan rasa takut di dalam diri ini.

Saya bangun pagi buta, shalat, mandi, sarapan dan mencek satu persatu barang bawaan yang akan dibawa. Setelah semuanya siap, saya bergegas menuju terminal Leuwi Panjang bersama Mama. Setelah sampai di terminal kami lalu mencari bus jurusan Bandung-Cikarang. Awalnya, Mama menyarankan agar saya pergi menggunakan bus paling depan yang terlihat akan segera berangkat, tetapi ketika saya mendekat dan melihat ke dalam bus, saya kaget. Bus non AC tersebut terlihat mengerikan, suram!

Saya kemudian beralasan “Eh ini bukan yang AC ya mang?”
“Bukan neng, kalo mau yang AC itu dibelakang”, jawab kenek bus.
“Oh ya, makasih mang”

Saya kemudian merangkul Mama dan berbalik arah
“Kenapa bukannya naik yang itu?”
“Serem mah, bukan AC lagi” jawabku.
“Itu teh busnya!”

Kami menemukan bus AC yang dimaksud kenek bus tadi. Saya pun segera memasuki bus dan berpamitan dengan Mama. Ya, saya sekarang sendirian di bus ini. Sendiri! Saya memandang ke belakang, dan ternyata seorang bapak paruh baya tengah menatap ke arah saya. Hiii!

Saya kemudian berpindah tempat duduk ke belakang supir seperti perkataan Mama. Setelah bus keluar terminal, saya kemudian berdoa agar Allah terus melindungi saya, dan saya yakin, Allah akan terus melindungi saya.

Ternyata satu persatu penumpang naik dari berbagai tempat, ada wanita, ada seorang kakek, dan beberapa penumpang wanita lainnya. Saya merasa begitu lega. Kemudian saya memperhatikan keadaan sekitar bis. Pada kaca samping supir terdapat tulisan arab *saya tidak bisa membacanya begitu jelas* mungkin itu adalah ayat kursi atau doa berpergian.

Di kaca depan bus terdapat tulisan Allah dan Muhammad. Dengan melihat tulisannya saja entah kenapa saya menjadi tenang. Ditambah, kenek dan pak supir yang akrab sesekali bercanda, musik dan pengharum ruangan membuat saya mulai menikmati kesendirian saya dalam perjalanan menuju kota asing yang saya tuju.

Adventure begins…

Cikarang. Letaknya ±125 km dari Kota Bandung, tempat saya bermukim saat ini. Jika dilihat dari google maps, perjalanan yang saya tempuh, tampak seperti gambar berikut ini.

Cikarang

Sesampainya di terminal bus Cikarang yang pertama kali saya rasakan adalah….Panassss! Meskipun pada saat itu masih jam 9 lewat tapi saya bisa merasakan teriknya matahari dan panasnya kota dengan banyaknya industri disini. Hingga banyak dedaunan dari pohon yang saya temui dipinggir jalan dipenuhi oleh debu. Saya kemudian melajutkan perjalanan dengan menaiki angkot no 17 hingga kawasan EJIP kemudian menaiki ojek hingga sampai di tempat tes.

Sesampainya disana saya dimarahi oleh salah satu petugas keamanan. Saya lupa apa saja yang petugas itu katakan, yang saya ingat:

“Masuknya lewat pintu kecil!” dengan nada marah
“Mau psikotest pak, digedung mana ya?”
“Balik dulu, masuk dulu lewat pintu kecil”

Saya berbalik dan ternyata orang-orang tengah menatap saya termasuk abang tukang ojek yang menunjuk pintu masuk kecil di samping kiri saya. Anehnya, saya sama sekali tidak ada perasaan malu sama sekali. Kemudian saya masuk dan menyatakan maksud kedatangan saya. Petugas keamanan lain kemudian menyuruh saya mencari nama saya di dua helai kertas yang ia berikan. Nama saya tidak ada dalam halaman pertama, kemudian saya mencari di halaman kedua.

“Yang di halaman depan aja mbak liatnya! yang belakang itu buat tes yang jam 8!” dengan nada meninggi.
“Ga ada pak” jawab saya.
“Ada udangan psikotesnya? Mana sini lihat” nadanya tidak berubah sedikitpun.
“Ada pak, ini…” jawabku sambil memperlihatkan pesan singkat undangan psikotest.

Kemudian petugas keamanan tersebut mengambil telepon genggam milik saya dan memperlihatkannya kepada seorang petugas perempuan yang berada dalam loket.

“Oh mba ini tes buat yang D3 ya?” (sambil mengembalikan telepon genggam saya)
“Iya bu” jawab saya.
“Sebentar, saya telefon mbak fauzia dulu” sambil mengangkat gagang telfon.

Petugas wanita tersebut kemudian menelfon pihak HRD.
…….”Iya Mba”…”Di Kantin ya”…Iya…”….
Percakapan di telfon pun berakhir.

“Yasudah, tulis nama dan nama universitasnya di tempat yang kosong”
“Oh iya bu”
Setelah saya menuliskan apa yang diminta oleh petugas wanita tersebut kemudian petugas itu berkata
“Nanti petugas keamanan akan memberitahu tempatnya”

Kemudian saya diberi tahu oleh petugas keamanan mengenai tempat dimana saya harus menunggu sebelum tes dimulai.
“Dari sini lewat zebra cross yang pertama, terus lurus aja ikutin jalan”
“Iya pak, zebra cross yang pertama ya” jawab saya
“Iya, yang ini, jangan yang itu!” Sambil menunjuk.

Saya kemudian berjalan dan sempat salah arah *bodohnya*
Kemudian saya bertanya kepada salah seorang pegawai
“Mas, maaf mau tanya, kantin dimana ya?”
“Oh salah, bukan lewat sini, lewat situ” sambil menunjuk ke arah zebra cross di depan saya “nanti lurus aja terus”
“Makasih ya mas” balasku.
Hahaha, Duh! *dalam hati*

Sesampainya dikantin ternyata telah banyak pencari kerja yang menunggu. Dua orang diantaranya adalah alumni politeknik tempat saya menuntut ilmu. Satu orang laki-laki dari jurusan teknik mesin (saya lupa namanya), dan satu orang lagi perempuan dari jurusan administrasi niaga (Ita, namanya). *Dunia sempit* kemudian saya banyak mengobrol dengan keduanya. Saya baru tahu, ternyata hanya kami bertiga yang melamar dengan background pendidikan D3, kebanyakan lainnya adalah anak lulusan SMA dan SMK. Tidak begitu lama menunggu, kemudian seorang petugas keamanan menghampiri kami.

“Yang D3 siapa saja? ikut saya!”
Kami bertiga kemudian diberi petunjuk untuk berjalan di atas zebra cross untuk bisa sampai ke gedung yang ada tak jauh dari pandangan kami. *lagi-lagi jalan di atas zebra cross* Karena perusahaan ini adalah perusahaan Jepang, tak mungkin jika segala sesuatunya tidak diatur dengan salah satu prinsip yang melekat pada bangsanya, yaitu KEDISIPLINAN.

Kemudian kami menunggu lagi. Tak lama setelah itu, Mbak Fauzia dari HRD memanggil kami bertiga untuk melakukan psikotes. Soalnya hampir sama dengan psikotes yang pernah saya ikuti sewaktu ada jobfair di kampus. Bedanya, tidak ada tes koran dan tes gambar. Kami mulai mengerjakan soal kira-kira pukul 10.30 dan berakhir pada pukul 01.00. Saya mengira akan langsung ada wawancara dengan HRD atau psikolog, tapi ternyata tidak. Kami boleh langsung pulang.

Saya kemudian menuju Masjid untuk menemani Ita menunaikan shalat ashar. Pada saat itu, kebetulan saya sedang berhalangan. Sesampainya di Masjid saya dibuat takjub dengan di perusahaan ini. Seragam mereka sama, sepatu sama, bahkan tas kecil milik para pegawai wanita pun berbentuk sama, tetapi berbeda warna.

Setelah Ita beres shalat kemudian kami bertemu dengan teman laki-laki kami (yang saya lupa namanya) dan kami menuju gerbang keluar. Saya melewati pos keamanan dan memberikan senyuman kepada salah seorang petugas keamanan. Namun saya dibuat kaget karena petugas tersebut sama sekali tidak membalas senyuman saya. *Sigh, elus dada* Ya, ampun! Beginikah sikap seorang petugas keamanan di kota ini?

Sesampainya di gerbang kami melihat hanya ada satu tukang ojek yang berjaga di depan gerbang. Terpaksa, hanya saya dan Ita yang menaiki ojek tersebut. Teman laki-laki (yang saya lupa namanya) harus berjalan kaki sendirian hingga depan kawasan Ejip yang jaraknya lumayan jauh apalagi saat itu masih dibilang tengah hari.

Di perjalanan saya harus berpisah dengan Ita karena ia akan bertemu dengan saudaranya yang tinggal di di Lemah Abang. Dari pertigaan Ejip kemudian saya melanjutkan perjalanan dengan angkot yang sama dengan angkot saya naiki saat berangkat ke lokasi tes. Sesampainya di depan terminal, ternyata bus jurusan Cikarang-Bandung berada di depan saya *saya ga perlu masuk ke terminal, alhamdulillah* dan ketika masuk bus ternyata teman laki-laki (yang saya lupa namanya) menaiki bus yang sama dengan yang saya naiki *alhamdulillah*

“Eh.. naik apa sampe sini?”
“Naik ojek”
“Dari sana naik ojek sampe sini? pantesan cepet. Bayar berapa?”
“35ribu”
“Wah lumayan juga” *mahal, hampir 3/4 dari ongkos naik bus ini, dalam hati*
Saya kemudian memilih duduk di kursi bersebrangan dengan tempat dia duduk.

Tak lama kemudian, seorang laki-laki berkata
“Sombong-lah..”
Lalu saya menengok, ternyata dia adalah partner saat saya menjadi mentor di acara PPKK (baca: MOS) Kampus. Namanya Hasan. *Entah kenapa saya begitu bahagia melihatnya* Kemudian dia duduk disamping saya. Di sepanjang perjalan, banyak hal yang kami perbincangkan. Mulai dari pekerjaan, kehidupan, hingga soal agama.

Hari itu saya banyak mendapat pelajaran,
1. Bahwa kota Bandung jauh lebih nyaman untuk dijadikan tempat tinggal, udaranya yang lebih sejuk, budayanya, orang-orangnya…
2. Bahwa musuh terbesar dalam hidup ini adalah diri kita sendiri. Rasa takut yang kita rasakan sebenarnya merupakan hal yang kita ciptakan sendiri.
3. Bahwa kita tidak perlu mengharapkan kebaikan atas apa yang kita beri terhadap orang lain. Memberi tak harap kembali. Selesai. Kebaikan yang kita lakukan biarlah Allah SWT yang membalasnya

This journey, makes me realize that Allah SWT always besides me. He always protect me through many ways. That’s why I feel so blessed. Thank you Allah…

Nabi Muhammad SAW bersabda, bahwa Allah SWT berfirman: “Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku terhadap-Ku dan Aku selalu bersamanya ketika dia mengingat-Ku. Apabila mengingat-Ku dalam dirinya, maka Aku-pun mengingatnya dalam diri-Ku” (Shahih Muslim)

A Blessed Traveler,
© Nur Fajrina Dewi

Advertisements

One thought on “A BLESSED TRAVELER

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s