Abah. Setahun yang lalu…

Pukul dua, dini hari.

Telfon genggam anak perempuan itu tak hentinya berdering. Hingga menggangu tidur lelapnya. Nomor tak dikenal. Siapa pula yang ingin bicara selarut ini?, tanyanya dalam mata yang masih terpejam.

Akhirnya anak perempuan itu menyerah dan beranjak dari mimpinya tuk menjawab panggilan telfon.

“Halo?”, jawabnya parau.
“Neng?”, suara di telfon itu tak asing baginya.
“Ya, a? Kenapa?”, tanya anak perempuan itu sambil mengusap mata menahan kantuk.

“Neng, dengerin ya dengerin”, nada suara lelaki di telfon itu berubah serius.
“Tadi aa di kasih tau teteh, Abah masuk rumah sakit, sesek katanya. Sok sekarang kamu sholat. Bilangin ke Mamah mau ke rumah kakek ga?”, katanya.
“Ya, a. Nanti dibilangin ke Mamah”, hati anak perempuan itu mendadak kelabu. Tak seperti biasanya.

Lalu anak perempuan itupun bergegas mencari Ibundanya yang memang sudah terbangun untuk sholat malam.

“Ma, tadi aa telp. Abah masuk rumah sakit sesek katanya. Mamah mau kesana ga?”, Tanya anak perempuan itu.

“Coba tanya, Aa mau kesana ga? Udah berangkat belum?”, jawab perempuan paruh baya yang tampak cemas itu.

Tak pikir lama, anak perempuan itu bergegas mengambil telfon genggam dan menekan tombol “call“, lalu diberikannya pada ibundanya yang tampak cemas itu. Kemudian ia berlalu untuk mengambil wudhu.

Selang beberapa waktu, “Teh, aa mah udah berangkat. Tadi yang ngasih tau satpam di kantornya”, kata ibunda anak perempuan itu.

Dengan perasaan tak karuan, anak perempuan itu pun kembali ke kamar. Lalu ia pun shalat malam. Dalam doa ia meminta pada Allah agar diberi keputusan terbaik. Hati kecilnya berbisik, apabila Allah ingin Ayahandanya kembali pulang, insya Allah, ia pun meridhonya.

Ia ridho Lelaki yang menemaninya selama 22 Tahun pulang kembali pada Allah, pun ia memohon agar Allah senantiasa menguatkan hari-harinya yang akan berlalu setelah kepergian Abah yang dicintainya itu.

“Ya Allah, luaskan rizkiku sehingga nanti aku bisa membantu perekonomian keluarga. Insya Allah aku siap, ya Allah”, riuh tak henti ia berdoa di penghujung malam.

Tak lama setelah waktu subuh, Ibunda anak perempuan itu terlihat bergegas menyiapkan perbekalan yang hendak dibawa menuju tempat suaminya, tepat di garis batas antara barat dan tengah pulau jawa. Anak perempuannya sedari tadi memasukan pakaian dan kebutuhan ibundanya ke dalam tas jinjing warna merah.

“Teteh mah disini aja ya mah”, ucapnya yang sedari tadi berpikir apa yang harus dipersiapkannya jika Abahnya itu benar-benar pulang ke tempat Rabb-nya.

Barang perbekalan sudah hampir penuh mengisi 2 tas jinjing.

“Biaaa, ikut yu ke rumah kakek, cepetan Mandi siap-siap”, kata wanita paruh baya itu pada gadis bungsunya yang terlihat masih ingin berlama-lama di kasur.

“Kenapa gitu?”, jawab gadis bungsunya dengan nada yang bingung dan cemas.

“Abah masuk rumah sakit, tadi aku ditelepon aa jam 2”, jawab kakak perempuan gadis kelas tiga SMA itu.

Sebenarnya, Ia yakin sekali bahwa adiknya itu sudah mendengar pembicaraan antara ia dan Ibundanya sedari tadi.

***

Tak lama, telfon anak perempuan itu berdering. Nomor tak dikenal. Lalu lekas ia jawab. Suara kakak perempuannya yang sudah lama tak ia jumpai terdengar gemetar. Ia menanyakan Mama, lalu terjadilah percakapan yang membuat hati perempuan itu semakin yakin bahwa waktu Abahnya itu hanya sedikit lagi.

Suasana pun mendadak beku. Tak terdengar kata-kata, namun doa tak terucap justru semakin jelas terlihat di raut wajah ketiganya.

“Mah, teteh disini dulu ya. Ga ikut. Mau persiapin yang lainnya. Nanti teteh anter ke Stasiun”, akhirnya anak perempuan itu pun memberanikan diri mengungkapkan apa yang ada di pikirannya sedari tadi.

Ibunda dan adik perempuannya telah ia antar ke stasiun, di sepanjang jalan ditemani kesendirian, ia berdoa, “Ya Allah, aku ridho. Jika memang ini kehendakmu. Karena Abah milikmu”, air mata menetes disepanjang perjalanan. Ia mencoba tuk tegar. Karena ia sadar bahwa setelah kepergian Ayahandanya, ia lah yang kan menjadi tumpuan keluarga.

***

Sesampainya di rumah, Ia menelpon kakak laki-lakinya lagi tuk memberitahukan bahwa ibunda dan adik perempuannya telah berangkat menuju rumah kakek.

Hatinya telah semakin ikhlas, apapun yang terjadi.

Kata hati anak perempuan itu ternyata benar. Tak lama, teleponnya kembali berdering. Kali ini, kakak laki-lakinya itu menelfon. Dengan suara terisak ia memberi tahu bahwa Ayahandanya itu sudah kembali pada Allah.

Innaa lillahi wa innaa ilaihi rooji’uun…

Ia pun mencoba menenangkan kakak laki-lakinya. Ia berkata bahwa ia akan pergi segera ke rumah kakek.

Lalu, seorang nenek datang memeluknya sambil terisak, berkata bahwa menantunya sudah pergi. Sudahlah, ini memang takdirNYA yang terbaik. Hatinya kini telah semakin ikhlas melepas kepergian Abahnya.

Tuk menenangkan diri, iapun mengambil wudhu dan sholat 2 rakaat. Dalam doanya ia meminta agar Allah mengampuni dosa Ayahanda yang dicintainya itu. Ia meminta agar kelak dipertemukan kembali di SurgaNYA. Tak ada yang bisa ia persembahkan untuk Abahnya itu kecuali menjadi seorang anak sholehah yang senantiasa mendoakan orang tua. Doa anak sholeh takkan terputus kan?, tanya anak perempuan itu pada Rabbnya.

Sabtu, 17 Oktober 2015
Rosim bin Karmita.

***

Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. (Qur’an Surat Ali Imran: 145)

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan. (Qur’an Surat Al Ankabut: 57)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s